GAMELAN MENJANGKAU IRLANDIA

London, 7 September 2017 —- Setelah sukses dengan program residensi seniman tradisional gamelan, degung, tari, dan angklung, di kota London dan Glasgow, Skotlandia, kali ini Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) London melebarkan program yang sama untuk menjangkau Irlandia. Program residensi ini dilaksanakan di National Concert Hall (NCH), Dublin. Pada saat serah terima secara resmi seniman peserta program residensi di Dublin ini, Atase Pendidikan dan Kebudayaan, KBRI London, Prof E. Aminudin Aziz, yang hadir mewakili Duta Besar RI untuk Kerajaan Inggris dan Irlandia, diterima oleh Direktur Utama NCH, Simon Taylor yang didampingi oleh Nigel Flegg, manajer pembelajaran, dan beberapa staf NCH. Selain itu, hadir juga Peter Moran, pengajar gamelan di NCH dan beberapa perguruan tinggi di Irlandia.

Aminudin mengatakan bahwa kali ini, peserta residensi adalah seniman dari Yogya, sebab, perangkat gamelan yang ada di Dublin ini untuk gaya Yogya, dan merupakan hibah dari Sri Sultan Hamengku Buwono X persis tiga tahun lalu kepada NCH dan masyarakat Irlandia pada umumnya. Perangkat gamelan ini oleh Sri Sultan HB X diberi nama Jogo Roso. “Ini menjadi momentum untuk memperingati tiga tahun keberadaan Jogo Roso di Irlandia”, sambung Aminudin. Saat ini, ada sekitar 9 kelompok gamelan yang secara rutin memanfaatkan keberadaan Jogo Roso di NCH tersebut. Bukan hanya kelompok yang ada di kota Dublin, tetapi juga yang ada di wilayah Limerick, Cork, Galaway, bahkan Belfast. Ini menunjukkan bahwa peminat musik gamelan di Irlandia cukup banyak dan berkembang dari waktu ke waktu.

Simon Taylor, CEO NCH, saat menerima penyerahan Sumaryono sebagai peserta program Residensi di NCH menyatakan bahwa pihaknya menyambut baik program residensi ini, yang merupakan program pertama sejak adanya Jogo Roso di NCH. Menurut Simon, keragaman musik tradisional yang ada di NCH menjadi salah satu penanda dan sekaligus pengikat serta pengokoh keberadaan NCH di tengah-tengah masyarakat Irlandia. Pihak NCH senantiasa memfasilitasi jenis-jenis musik rakyat yang sudah mendunia dan gamelan merupakan salah satu di antaranya. Oleh karena itu, menurut Simon, ketika ada tawaran dari KBRI di London yang bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia kepada NCH untuk menjadi tuan rumah program Residensi Seniman Gamelan, pihak NCH menyambut baik, dan mengupayakan fasilitasi terbaik untuk pesertanya. “Ini adalah cara kami untuk bisa bertahan dan menjadikan lembaga kami sebagai rumah bagi seniman dunia”, imbuh Simon.

Sementara itu, Peter Moran, yang sehari-hari bekerja sebagai dosen gamelan di NCH dan beberapa universitas di Irlandia dan ikut mendampingi pimpinan NCH saat acara penyerahan peserta residensi menyatakan bahwa sebetulnya sudah lama merindukan kehadiran ahli gamelan Yogya di Dublin ini. Namun, baru setelah tiga tahun menunggu harapannya itu terpenuhi. “Kami harus bersabar untuk menunggu, dan baru setelah tiga tahun keinginan ini menjadi kenyataan. Ini tentu saja atas jasa baik dari Atdikbud KBRI London dan Kemdikbud di Jakarta”, ungkap Peter, yang pernah lama tinggal dan belajar gamelan di Yogyakarta beberapa tahun lalu. Kali ini, Peter akan menjadi pendamping Sumaryono dalam melatih bermain gamelan dengan keterampilan tinggi kepada para peserta di Irlandia. “Dasar-dasar bermain gamelan sudah saya ajarkan. Yang kami perlukan sekarang adalah pelajaran lanjutan, biar kami juga lebih maju lagi”, lanjut Peter.

Setelah bertemu dengan sejumlah pemain gamelan di Dublin, Sumaryono menemukan bahwa teknik bermain gamelan para peminat gamelan di Dublin umumnya sudah baik. “Namun, teknik mereka masih perlu dipoles sehingga kedengarannya lebih pas di telinga”, tutur Sumaryono yang sehari-hari sebagai dosen ISI Yogyakarta itu sambil tersenyum. Bagi Sumaryono, program residensi selama tiga bulan yang akan diikutinya sampai akhir November 2017 itu bukanlah kegiatan yang baru bersama pencinta gamelan di Dublin. Tiga tahun lalu, Sumaryono pernah mengikuti program muhibah seni yang dipimpin Sri Sultan HB X ke Dublin dan berkesempatan menampilkan beberapa karyanya di sana. Keikutsertaannya dalam program residensi seniman gamelan kali ini akan merupakan lanjutan dari cita-citanya yang tertunda membantu para peminat musik gamelan di Irlandia bermain gamelan dengan lebih baik. “Saya sangat senang bisa kembali ke sini dan membantu para peminat gamelan di Irlandia bermain gamelan yang baik. Sehingga kita berharap bahwa mereka bisa betul-betul mencintai musik asli Indonesia ini”, sambung Sumaryono. Terkait dengan jenis pelajarannya, Sumaryono menambahkan bahwa materinya akan berkisar pada gending, playon, ketawang, lancaran, gender, siter, celempung, psinden, kendang, dan rebab, dan suling. “Pokoknya, lengkap pasti pelajarannya”, ujar Sumaryono.

Program Residensi Seniman Gamelan yang dilaksanakan di Dublin ini memang agak berbeda dengan program residensi yang selama ini sudah berjalan di Glasgow dan London sepanjang tahun 2017. Di Dublin ini, menurut Atdikbud KBRI London, E. Aminudin Aziz, ada satu kelompok peminat gamelan yang berasal dari kaum difabel yang meminta diajari gamlean. Ini merupakan hal baru dan menjadi tantangan bagi peserta. “Kami merasa kaget juga, sebab ternyata musik gamelan tidak hanya menarik minat orang-orang yang secara fisik normal, tetapi juga ternyata menarik minat kaum difabel. Ini akan menjadi tantangan tersendiri bagi pengajar, sebab baru pertama kali dihadapkan pada lingkungan mengajar kaum difabel”, ungkap Aminudin. Dalam catatan Aminudin, program belajar gamelan untuk kaum difabel ini merupakan yang kedua kali dilakukan oleh KBRI London. Yang pertama dan saat ini sedang dirintis adalah pelajaran gamelan untuk kaum difabel yang didukung oleh KBRI London, Kemdikbud, dan BBC London.

KBRI London,  September 2017