ANGLO INDONESIAN SOCIETY (AIS) SUMMER PICNIC DENGAN NUANSA SUNDA DAN BALI

SIARAN PERS KBRI LONDON

017/PR.PEN/VII/LONDON/2018

ANGLO INDONESIAN SOCIETY (AIS) SUMMER PICNIC

DENGAN NUANSA SUNDA DAN BALI

10 JULI 2018

Lantunan merdu sinden Hendrawati Ashworth, lulusan Institut Seni dan Budaya Indonesia (ISBI) Bandung Jurusan Karawitan tahun 1992 menarik perhatian anggota Anglo Indonesian Society (AIS) yang hadir pada acara piknik yang diselenggarakan di halaman asri Wisma Nusantara, kediaman resmi Duta Besar RI untuk Kerajaan Inggris, Irlandia dan World Maritime Organisation, Dr Rizal Sukma.

Penampilan Hendrawati yang begitu memukau diiringi petikan 2 kecapi yang dimainkan secara harmonis oleh suaminya Matt Assworth alias Kang Mamat dan anaknya, Arif Assworth yang juga memiliki kemampuan sebagai dalang. Sementara Simon Cook, maestro suling Sunda yang juga mengiringi tembang Sunda tersebut, tidak kalah menarik perhatian para penonton yang menyaksikan Kawih Sunda, seolah membawa pendengarnya kealam Parahyangan yang asri dan menawan.

Acara piknik AIS kali ini memang terasa sangat istimewa. Sebagai organisasi nirlaba yang memiliki misi memajukan hubungan people-to-people Inggris-Indonesia melalui berbagai kegiatan seni dan budaya, acara-acara AIS selalu dihadiri anggotanya yang umumnya warga negara Inggris yang memiliki ketertarikan dan kecintaan terhadap Indonesia. Keistimewaan acara piknik AIS diungkapkan oleh Dr Lesley Pullen, salah seorang pakar Indonesia yang juga merupakan anggota AIS Council. Lesley yang datang bersama suaminya menyatakan sangat senang melihat penampilan kecapi suling Sunda pimpinan Simon Cook yang sangat menawan.

Duta Besar Rizal Sukma pada saat menyampaikan sambutan mengatakan betapa bahagianya ia menyaksikan acara piknik yang diselenggarakan AIS bekerja sama dengan KBRI London. Dubes Rizal Sukma mengungkapkan bahwa “gathering” yang diselenggarakan dengan suasana penuh kekeluargaan tersebut mengingatkan ia akan suasana di Indonesia, dimana dirasakan suasana kekeluargaan dan persahabatan dari semua yang hadir pada acara yang dimulai pada pukul 11.00 dan berakhir pukul 17.00 BST (British Summer Time). Dubes Rizal Sukma mengapresiasi kerja sama yang baik antara AIS dan KBRI London selama ini dalam memperkuat hubungan people-to-people antara Indonesia dan Inggris melalui berbagai kegiatan seni dan budaya.

Hal senada disampaikan Martin Hatful yang baru beberapa minggu lalu ditetapkan oleh AIS Council sebagai acting chairman. Martin menyampaikan ucapan terima kasih khususnya kepada Duta Besar Rizal Sukma yang telah memberikan kesempatan bagi AIS untuk berkegiatan di halaman Wisma Nusantara yang indah dikelilingi pohon-pohon yang lebat dan menyegarkan. Martin berharap agar kerja sama yang telah terbina selama ini dapat diteruskan dan ditingkatkan. Pengalaman Martin Hatful yang pernah menjadi Duta Besar Inggris untuk Indonesia pada tahun 2008 s.d 2011 tentunya merupakan modalitas yang sangat signifikan dalam upayanya mengembangkan AIS dan meningkatkan perannya dalam konteks hubungan people-to-people Indonesia-Inggris.

Selepas menikmati kesenian Sunda, perhatian penonton mengarah pada tim London Angklung Ensemble (LAE) pimpinan Hana A. Satriyo. Sajian lagu Bengawan Solo, Manuk Dadali, Rayuan Kelapa dan Mama Mia sungguh membuat mata penonton berbinar-binar, menunjukan decak kagum permainan angklung dengan konduktor Aan Handoyo yang tengah menjalankan program residensi mengajar angklung di beberapa sekolah di Inggris. Program menarik ini merupakan bagian dari program kegiatan Atase Pendidikan dan Kebudayaan Prof. E. Aminudin Azis. Seolah tidak rela dengan sajian empat lagu tersebut diatas, penonton mulai meneriakan more…more please. Demi memenuhi permintaan penonton yang begitu menggebu-gebu, LAE menampilkan sajian pamungkas Mission Impossible yang terdengar sangat harmonis dan menarik.

Senyuman dan tepuk tangan penonton terlihat jelas saat menikmati sajian tembang Sunda sambil menikmati kudapan martabak yang disajikan oleh Sri Owen, penulis dan pemerhati kuliner Indonesia yang sudah lebih dari 40 tahun mempromosikan kuliner Indonesia di Inggris dan di berbagai belahan dunia lainnya. Sementara beberapa Warga Inggris lainnya nampak sangat menikmati Rendang Ravioli ala Chef Budiono Sukim, chef andalan Indonesian Chef Association UK (INCA) yang sehari-hari bekerja sebagai chef di salah satu hotel bintang lima di London. Sajian sate ayam dan sate tempe ala Chef Yulizar juga diantrikan oleh begitu banyak pengunjung.

Sementara sajian Gamelan Bali pimpinan Andy Chaning dengan lantunan yang dinamis dan exotis tak pelak mengundang Elisa Ewing dan Farida Bennet dari tempat duduknya untuk memberikan suguhan “bonus” tarian Bali spontan, memancing tepuk tangan dan teriakan kecil penonton lainnya yang memberikan semangat kepada kedua penari “dadakan” tersebut.

Acara piknik AIS yang secara resmi ditutup pada pukul 15.00, ternyata tidak membuat para pengunjung untuk beranjak pulang. Para staf Penerangan dan Sosial Budaya dibawah pimpinan Minister Counsellor Pensosbud Thomas Siregar dengan sigap langsung menggelar TV berukuran besar dan disambungkan ke speaker, menyiarkan siaran langsung Kejuaraan Sepak Bola Dunia dari Rusia, menghadirkan pertandingan antara Tim Sepakbola Inggris melawan Swedia. Suasana piknik yang sebelumnya “tertib” dan anggun, berubah menjadi suasana yang hangat dan diselingi luapan seru para penonton setiap kali para pemain Inggris mendekati gawang Swedia. Kemenangan mutlak Inggris 2-0 atas Swedia meninggalkan wajah-wajah sumringah anggota AIS yang bertahan hadir di acara piknik tersebut. Bisa dipastikan mereka pulang dengan perasaan bahagia karena selain telah menikmati sajian budaya Indonesia yang sangat mengagumkan, mereka juga sangat senang Inggris dapat melangkah ke tahap semi final Kejuaraan Dunia Sepak Bola yang dipertandingkan di Moskow, Rusia.

            KBRI London sangat mendukung acara AIS Summer Picnic tersebut yang merupakan medium interaksi antara warga negara Indonesia dan Inggris dalam upaya bersama mengenalkan dan mempromosikan seni dan budaya Indonesia yang sangat beragam dan indah.

KBRI London, 10 Juli­ 2018