ALUNAN SULING SUNDA DAN GAMELAN JAWA BERPADU DENGAN INDAH PADA PERTUNJUKAN KOLABORASI MUSIK INDONESIA-INGGRIS-INDIA DI ROUNDHOUSE, LONDON,

LONDON, 2 Februari 2017—– Gedung pertunjukan Roundhouse di daerah Camden, pada malam 1 Februari dipenuhi para pecinta musik dari berbagai pelosok kota London, Inggris. Betapa tidak, Susheela Raman dan Sam Mills yang menggandeng sejumlah musisi dari Indonesia dan India mengusung konsep Ghost Gamelan yang tentunya mengundang rasa penasaran para penonton.

Di tengah keheningan malam yang cukup dingin di kota London, alunan merdu gamelan mengawali lantunan perdana Moon yang dibawakan dengan sangat syahdu oleh Susheela Raman. Sementara petikan gitar Sam Mills dengan intens mencuri perhatian penonton di sela-sela tarikan suara sang vokalis yang turun naik menghangatkan ruang pertunjukan.

Kolaborasi musik modern dan tradisional mulai terasa pada lagu ketiga, No Name dimana instrumen-instrumen musik modern seperti tarikan senar cello, bass dan gitar yang dimainkan para musisi Inggris berpadu dengan indahnya dengan hentakan pada tabla dari India serta pukulan bertalu-talu pada gong, saron dan bonang dari Indonesia. Sungguh suatu jam session yang mengagumkan dari para musisi berbakat dari ketiga negara tersebut.

Kehadiran Duta Besar Indonesia untuk Inggris, Dr Rizal Sukma beserta Ibu Hana A. Satriyo dan Duta Besar Inggris untuk Indonesia, Moazzam Malik beserta putrinya menambah semangat para musisi untuk menyuguhkan kolaborasi musik terbaik mereka. Lagu Ghost yang mempresentasikan format gamelan pada malam itu, sempat menahan penonton untuk tidak berkedip pada hitungan beberapa detik. Hal itu tidak terlepas dari lengkingan suara suling yang dimainkan maestro gamelan kontemporer, mas Gunarto Gondrong sempat membuat penonton tambah penasaran dalam menentukan alunan sulingnya karena mengandung elemen Jawa dan Sunda sekaligus.

Setelah lebih dari satu setengah jam penonton dihibur dengan penampilan kolaborasi musik tiga negara yang sangat memukau, Susheela menutup dengan tembang pamungkas Tomorrow Never Knows, yang diaransemen secara kreatif dari lagu the Beatles yang terkenal. Para penggemar the Beatles tentu sangat mengenali tembang yang satu itu, namun juga akan terpesona dengan sentuhan nada tradisional India dan Indonesia yang begitu dominan. Suguhan terakhir ini disaksikan secara berdiri oleh seluruh penonton yang sudah tidak tahan untuk ikut bergoyang dan bertepuk tangan seakan tidak rela bila pertunjukan kolaborasi musik tiga negara tersebut segera diakhiri.

Menanggapi desakan halus para penonton, para musisi tampil kembali di panggung untuk memainkan tembang No Name yang mengekspos secara maksimal kemampuan para musisi dalam memainkan instrumen yang dikuasainya, melahirkan harmonisasi musik yang indah dan membanggakan.

KBRI London sangat mengapresiasi dan mendukung penampilan musik kontemporer yang melibatkan alat musik tradisional seperti gamelan sebagai medium promosi seni dan budaya Indonesia. Diharapkan kerjasama seperti ini dapat terus dikembangkan di masa datang.