Prestasi Kabupaten Bojonegoro dibahas di Inggris

Bupati Bojonegoro, Suyoto Ngartep Mustajab, diundang menjadi pembicara tunggal pada Seminar yang bertajuk ‘Open Government at the Subnational Level: Innovations in governance from Bojonegoro‘ di Institute for Development Studies (IDS), University of Sussex, Inggris, pada tanggal 5 Desember 2016. Seminar tersebut dihadiri oleh staf pengajar, peneliti, dan mahasiswa IDS serta staf dan pimpinan NGO Making All Voices Count (MAVC) yang memusatkan studi dan aktivitasnya pada tata kelola pemerintahan yang baik, Indonesia, dan Bojonegoro. Seminar tersebut diselenggarakan sebelum pelaksanaan Global Summit Meeting of the Open Government Partnership (OGP) di Paris, Perancis, pada tanggal 7-9 Desember 2016, yang mana Bojonegoro merupakan salah satu dari 15 daerah yang terpilih dari seluruh dunia mempresentasikan pilot programme OGP di tingkat sub-nasional.

whatsapp-image-2016-12-05-at-19-58-53

Pada presentasinya, Kang Yoto, demikian panggilan akrab Pak Bupati, memaparkan mengenai program-program reformasi birokrasi, pemberdayaan masyarakat, tata kelola pemerintahan yang baik, dan pembangunan yang dilakukan selama 9 tahun masa kepemimpinannya (2 periode terakhir ini). Beberapa terobosan yang dilakukan Kang Yoto di antaranya mengembangkan program aplikasi berbasis internet dan telepon selular bernama LAPOR untuk menampung aspirasi warga Bojonegoro agar dapat direspon secara cepat dan tepat oleh Pemerintah. Selain LAPOR, Pemda Bojonegoro juga membangun Dialog Jumatan di mana warga dapat berkumpul di alun-alun setiap hari Jumat untuk menyuarakan aspirasinya. Tidak hanya itu, Kang Yoto juga menyadari bahwa kualitas birokrasi yang baik sangat penting untuk menunjang program-programnya. Oleh karenanya Bupati sering mengadakan pelatihan bagi pegawai Pemda yang berjumlah kurang lebih 12.000 orang yang diberikan oleh Pak Bupati sendiri. Menyadari bahwa infrastruktur yang baik merupakan faktor penting penunjang pembangunan ekonomi, maka seirama dengan program nasional, Pemda Bojonegoro juga melakukan banyak upaya perbaikan kualitas infrastruktur seperti pembangunan jalan dan penghijauan Daerah Aliran Sungai yang untuk mencegah banjir.

 

Kini, selain menjadi wakil Indonesia pada pilot project OGP, cerita sukses Bojonegoro juga meliputi menjadi daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Indonesia (19.47%), penurunan tingkat kemiskinan dari 16.6% menjadi 13,98%, dan meningkatnya tingkat pemerataan ekonomi di Bojonegoro yang ditandai dengan menurunnya Ratio Gini daerah tersebut.

 

Presentasi Bupati disambut meriah oleh peserta seminar yang secara antusias memberikan banyak pertanyaan dan komentar bahkan wawancara tete-a-tete terkait perkembangan yang terjadi di Bojonegoro. Terungkap pada kesempatan tersebut bahwa terdapat 7 penelitian dengan objek studi Bojonegoro. Staf pengajar IDS menyatakan bahwa akan memberikan hasil penelitian tersebut kepada Bupati Bojonegoro dan jajarannya untuk mendapatkan tanggapan.

 

Seminar tersebut terselengara atas kerja sama dengan NGO MAVC yang juga beroperasi di Indonesia. Indonesia merupakan salah satu negara prioritas yang menjadi perhatian MAVC selain Filipina, Kenya, Afrika Selatan, Ghana dan Tanzania dikarenakan perkembangan demokrasi yang dinilai cukup positif di negara-negara tersebut. Sedangkan 15 daerah yang menjadi pilot project OGP adalah Austin (AS), Bojonegoro (Indonesia), Buenos Aires (Argentina), Elgeyo Marakwet (Kenya), Jalisco (Maksiko), Kigoma (Tanzania), La Libertad (Peru), Madrid (Spanyol), Ontario (Kanada), Paris (Perancis), Sao Paulo (Brazil), Skotlandia (Inggris), Sekondi-Takoradi (Ghana), Seoul (Korea Selatan), Tbilisi (Georgia).