KULINER INDONESIA TAMPIL PADA INDONESIA KONTEMPORER 2017

London, 7 Oktober 2017 —- Indonesia Kontemporer (IKON) 2017 kembali digelar di Kampus School of Oriental and African Studies (SOAS) di pusat Kota London. Kegiatan yang telah memasuki tahun ketujuh ini diselenggarakan oleh ARTiUK, komunitas nirlaba yang bertujuan mempromosikan seni dan budaya Indonesia, bekerjasama dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia dan SOAS. Tema tahun ini adalah Food Glorius Food (Kemegahan Makanan) dengan menampilkan demo masak yang diperagakan oleh dua koki kelas dunia, Petty Eliot dan Budiono Bin Sukim.

Sementara Duta Besar Indonesia untuk Kerajaan Inggris dan Irlandia, Dr Rizal Sukma yang tampak hadir bersama keluarganya menyatakan bahwa sejak mulai bertugas di Inggris pada awal tahun 2016, ini merupakan tahun kedua baginya untuk menyaksikan acara yang menjadi ajang promosi seni dan budaya Indonesia. Dubes Rizal Sukma mengapresiasi kerja keras yang telah dilakukan oleh ARTiUK dan berbagai pihak dan menilai bahwa pemilihan tema kegiatan tahun ini yang menitikberatkan pada Kuliner Indonesia dirasakan sebagai sesuatu yang tepat mengingat Pemerintah Indonesia saat ini sedang melakukan berbagai upaya untuk mempromosikan kuliner Indonesia sebagai bagian dari soft diplomasi kita.

Hal  ini juga diungkapkan oleh Dubes Rizal Sukma saat membuka Acara Bincang Kuliner yang dimoderatori oleh Hana A. Satriyo dengan menghadirkan nara sumber yang selama ini bergelut di bidang kuliner diantaranya Prof. Michael Hitchkok dari Goldsmith University, Janice Gabriel, Produser TV Kuliner dan Petty Elliot, Koki internasional dan penulis buku Jakarta Bites.

 

Para pengunjung tampak sangat menikmati berbagai sajian kuliner Indonesia yang digelar di area pedersterian kampus SOAS nan indah. Beberapa pengunjung dengan setia mengantri di tenda yang menjual sate ayam, sementara yang lainnya asyik menikmati gado-gado.

Disamping menikmati kuliner, para pengunjung yang umumnya warga In

 

ggris tersebut sangat senang dengan tampilnya beberapa siswa sekolah White Field yang menarikan Tari Bertani. Kehadiran London Angklung Ensemble pimpinan Hana A. Satriyo di area pedestrian yang memainkan beberapa lagu dari Indonesia dan Inggris membuat pengunjung semakin merapat ke area pedestrian. Lagu Yesterday, yang dipopulerkan oleh grup band kenamaan Inggris pada tahun 1960an, the Beatles, dimainkan secara apik oleh ibu-ibu yang sebagian besar merupakan istri-istri staf KBRI London. Aan Handoyo, konduktor grup angklung tersebut terlihat begitu bersemangat memandu permainan angklung yang memukau para pengunjung. Lagu Es Lilin yang dibawakan dengan irama khas Jawa Barat, seakan para hadirin berada di tanah Parahyangan. Sementara  lagu Hari Merdeka yang dibawakan dengan irama mars, memberikan nuansa patriotik dan mengingatkan pada Ulang Tahun Kemerdekaan RI yang baru beberapa bulan berselang. Sambutan meriah penonton juga tampak pada saat lagu Viva La Vida yang biasa dibawakan oleh Grup Band Cold Play dimainkan dengan angklung dengan komposisi notasi musik yang indah dan menawan.

Disamping berbagai pagelaran seni dan budaya di luar ruangan, para pengunjung juga dapat menikmati pertunjukan lainnya di dalam ruangan, diantaranya penampilan gamelan Jawa dan Bali oleh kelompok segala usia dan bangsa di London, Jagat Gamelan, improvisasi musik dan wayang oleh East 15, komunitas mahasiswa bidang studi World Performance di Universitas Essex, Gado-Gado Ensemble, ramuan genre musik tradisional Indonesia yang “digado-gadokan” dengan musik folk dan rock.

Para penonton juga tampak sangat terhibur pada saat anak-anak yang berusia antara 6 s.d 11 tahun yang menamakan dirinya Murang Kalih tampil menarikan Kaulinan Barudak. Pelatih tari ini, Lanny Siregar, yang merupakan lulusan Akademi Seni Tari Bandung menyatakan bahwa merupakan satu hal yang menyenangkan dapat mengenalkan budaya Indonesia walaupun waktu latihannya sangat sempit yakni tiga kali pertemuan.

Sementara bagi para penggemar literasi, penampilan Felicia Nayoan Siregar yang membawakan cerita (story telling) “Komodo Mau Bermain Musik” mendapat sambutan sangat meriah. Yang menarik dari acara ini adalah karena ceritanya diiringi oleh vokal maestro seni dari Yogyakarta, Sunardi. Melalui cerita ini, Felicia menceritakan mengenai kekayaan flora dan fauna Indonesia.

Berbeda dengan festival budaya Indonesia umumnya, IKON menggelar acara tahunannya dengan semangat ‘merayakan karya-karya yang  terinspirasi oleh seni Indonesia’. Itulah sebabnya banyak penampil di IKON yang bukan warga Indonesia namun mencintai dan mengembangkan seni maupun budaya Indonesia berdasarkan pengalaman individunya.

IKON 2017 ditutup dengan pemutaran salah satu film legendaris Indonesia, Tiga Dara, yang dilengkapi subtitle Bahasa Inggris. Penayangan film ini dipilih Dr Ben Murtagh -ahli film Indonesia dari SOAS-  karena merupakan salah satu karya klasik dunia perfilman Indonesia.

KBRI London sangat mendukung kegiatan ini dan berharap dapat terus dikembangkan dan ditingkatkan pada tahun-tahun mendatang.

KBRI London, 7 Oktober 2017