Inggris harus mengambil peran lebih besar di Asia Timur!

Dalam acara Roundtable mengenai Britain’s Place in the World, Dubes RI untuk Inggris dan Irlandia Dr. Rizal Sukma menyebutkan bahwa Inggris harus segera menentukan peran apa yang ingin dimainkannya di kawasan yang saat ini menjadi pusat gravitas dunia yaitu Asia Timur.

Acara Roundtable tersebut diselenggarakan oleh Conservative Foreign and Commonwealth Council (CFCC) yang diikuti oleh lebih dari 90 anggota CFCC menghadirkan pula pembicara lainnya seperti Dubes Yordania untuk Inggris, 4 anggota parlemen House of Commons dan House of Lords, juga dari kalangan akademisi seperti Dr Brookes Newmark dari Oxford University, Dr. Mark Stanford dari King’s College, dan Dr Rem Korteweg dari Centre for European Reform.

Dubes Rizal Sukma dalam paparan singkatnya juga menyebutkan bahwa proses keluarnya Inggris dari Uni Eropa akan mendorong Inggris untuk memusatkan sumber daya dan perhatiannya untuk melakukan negosiasi di banyak bidang mengingat kedekatan hubungan ekonomi Inggris dengan Uni Eropa sementara pada saat yang bersama terdapat aspirasi supaya Inggris berperan besar di tingkat global.

“Apabila Inggris ingin berperan besar secara global, Inggris harus segera mendefinisikan tempat dan perannya di kawasan Asia Timur. Inggris juga harus membangun hubungan yang kuat dengan China dan India. Disamping itu, Inggris juga harus memperkuat hubungan dengan ‘the fulcrum of East Asia’ yaitu ASEAN dan Indonesia. ” tegas Dubes Rizal Sukma.

Menurut Dubes Rizal Sukma, Inggris telah mempunyai pengaruh yang cukup kuat di kawasan Asia dan hal ini ditunjukkan dengan pengetahuan masyarakat di negara-negara Asia seperti Indonesia yang mengenal dengan baik tim-tim sepak bola Inggris dan group-group band. Inggris juga tetap menjadi negara favorit bagi pelajar Indonesia yang ingin melanjutkankan sekolahnya ke jenjang yang lebih tinggi. Dubes Rizal Sukma mengutip tulisan Menlu Inggris Boris Johnson yang berkunjung ke Indonesia pada tahun 2014 yang menyatakan bahwa Inggris mempunyai “soft power” yang sangat besar di kawasan yang bisa terus diperkuat.

Paparan Dubes Rizal Sukma disambut hangat oleh para peserta yang hadir dalam acara tersebut. Dalam kesempatan itu, Dubes Yordan menyatakan bahwa selain Asia, Inggris juga dapat berperan lebih besar di kawasan Timur Tengah.

Sementara dari kalangan akademisi seperti Dr. Rem Korteweg menyebutkan bahwa dengan memberlakukan pasal 50 dari Perjanjian Lisbon yang mengatur mengenai keluarnya suatu negara dari Uni Eropa, harus dipahami bahwa langkah tersebut baru merupakan langkah awal dari proses negosiasi.

Dr. Korteweg juga sependapat dengan Dubes Rizal Sukma bahwa Inggris sebaiknya tidak hanya memfokuskan perhatiannya pada pembentukan kembali pola hubungannya dengan Uni Eropa, namun juga dapat segera membangun hubungan yang lebih erat dengan negara-negara di berbagai kawasan termasuk Asia.

Secara terpisah, Lord Michael Jay yang juga hadir di acara CFCC tersebut mengatakan bahwa pasca Brexit, Inggris harus membangun hubungan bilateral secara lebih aktif dengan memperkuat kantor-kantor perwakilannya di luar negeri termasuk British Council dan BBC.

Sejak hasil referendum yang dimenangkan oleh para pendukung Brexit secara resmi diumumkan pada tanggal 24 Juni 2016, hingga saat ini Inggris belum mengaktifkan pasal 50 dari Perjanjian Lisabon tersebut. Diskursus mengenai waktu yang tepat bagi Inggris untuk mengaktifkan pasal 50 tersebut hingga kini juga terus bergulir.

cfcc1