DISKUSI PANEL MEMBAHAS PENINGKATAN PERAN PEREMPUAN DALAM EKONOMI DIGITAL

London, 11 Juli 2018. Kedutaan Besar Republik Indonesia  dan Perwakilan Bank Indonesia di London menyelenggarakan diskusi panel tentang partisipasi perempuan di bidang ekonomi digital dengan menghadirkan para ahli di bidang digital ekonomi dan pemerhati isu gender. Para pembicara terdiri dari Dr. Nurhayati Ali Assegaf, M.Si (Anggota DPR RI Komisi XI dan Ketua BKSAP DPR RI), Hana A. Satriyo (Mantan Direktur Program Gender dan Partisipasi Perempuan, Asia Foundation), dan Danae Kyriakopoulou (Kepala Ekonomi dan Ketua Penelitian Official Monetary and Financial Institutions Forum/OMFIF) dengan moderator Chris Ostrowski (Ketua Bidang Pertumbuhan Bisnis OMFIF).

Acara dibuka oleh Wakepri KBRI London, Kepala Perwakilan BI London dan Wakil dari Department for Digital, Culture, Media & Sport Inggris dan dihadiri oleh kurang lebih 50 (lima puluh) orang peserta yang terdiri dari perusahaan-perusahaan Inggris, pemerintah Inggris, mahasiswa dan masyarakat Indonesia.

Para pembicara dalam diskusi panel pada intinya mencatat bahwa ekonomi digital, termasuk fintech, masih didominasi oleh laki-laki. Laporan Kesenjangan Gender Global 2017 yang dirilis Forum Ekonomi Dunia, bahwa perempuan kurang berpengaruh di bidang teknik, mesin, konstruksi, informasi, komunikasi, dan teknonologi. Penyebabnya adalah masih eksisnya bias gender yang menghalangi peran perempuan dan sektor teknologi yang belum memanfaatkan keuntungan dalam diversitas gender. Beberapa studi empiris menemukan bahwa adanya kesataraan gender dapat meningkatkan profit perusahaan. Sejalan dengan ini, Dr. Nurhayati dan Hana A. Satriyo menyatakan bahwa pengusaha perempuan cenderung lebih memanfaatkan teknologi digital di bidang bisnis. Data statistik menunjukkan terdapat 74% penguasaha perempuan di sektor UMKM di Indonesia yang menggunakan komputer, dibanding 60% pengusaha laki-laki. Untuk itu, fintech dipandang dapat mengatasi hambatan terhadap akses finansial bagi pengusaha perempuan.

Diskusi Panel berkesimpulan bahwa pendekatan yang kreatif dan “out-of-the-box” penting dalam upaya meningkatkan peran perempuan di bidang ekonomi digital, di antaranya melalui sektor pendidikan untuk memecahkan stereotip bahwa laki-laki memiliki keunggulan di bidang studi science, technology, engineering dan mathematics (STEM) dan dukungan kebijakan yang lebih pro perempuan di sektor pemerintahan dan swasta.

Indonesia diprediksi akan menjadi kekuatan ekonomi digital pada tahun 2020. Pada tahun 2025, peluang ekonomi digital di Indonesia akan mencapai nilai USD 150 milyar per tahun. Tantangan bagi Indonesia adalah memperkecil bias gender dalam pemanfaatan digital, khususnya terkait partisipasi perempuan dalam fintech. Dalam kaitan ini dan sejalan dengan perkembangan industri fintech di Asia Tenggara sejak 2016, BI mendirikan BI Fintech Office pada November 2016 untuk mendorong pertumbuhan inovasi-inovasi baru, terutama yang berkaitan dengan teknologi dan sektor keuangan serta membantu pemerintah mendorong inklusi finansial.

—000—