Apakah orang Indonesia di Inggris tidak lagi dapat berbahasa Indonesia dengan baik dan benar?

Lama menetap di negeri orang tidaklah berarti harus melupakan bahasa Ibu atau bahasa #Indonesia. Sebagai bahasa yang dipenuhi oleh kaitan emosi dan perasaan, maka bahasa Ibu atau bahasa pertama akan tetap lebih mampu mengungkapkan rasa ketika bertutur dengan sesama. Sementara itu, sebagai bahasa perjuangan dan bahasa nasional, maka bahasa Indonesia tetap memiliki tempat khusus dalam benak warga Indonesia. Dengan demikian, tidak ada alasan untuk tidak mempertahankan kemampuan dalam kedua bahasa itu. Namun, hal ini tidak berarti kita abai kepada kepentingan untuk menguasai bahasa asing. Demikian salah satu butir kesimpulan dari Seminar #Kedwibahasaan dan Pendidikan #Dwibahasa yang diselenggarakan oleh Kantor Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) London. Acara yang bertempat di KBRI ini dilaksanakan sekaitan dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional tanggal 2 Mei 2017, diikuti oleh para mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh pendidikan magister dan doktor, keluarga Indonesia di Inggris, istri para diplomat KBRI London, pemerhati pendidikan, dan masyarakat #Inggris.

Dalam pengantar pembukaannya, Duta Besar Republik Indonesia untuk Inggris Raya dan Irlandia, Dr Rizal Sukma, menyatakan bahwa saat ini banyak sekali orang tua yang sudah mulai abai terhadap bahasa anak-anaknya. Sudah tidak terlalu jelas lagi bahasa utama yang dipakainya. Tampaknya, prinsip utama mereka adalah kelancaran berkomunikasi di antara mereka sendiri. Oleh karena itu, lanjut Duta Besar, gagasan untuk mengadakan seminar atau diskusi tentang kedwibahasaan yang diprogramkan melalui kantor Atdikbud London ini merupakan sebuah upaya untuk mengingatkan kita semua tentang makna dan hakikat serta fungsi dari masing-masing bahasa yang kita miliki. “Kita sering kali ambil mudahnya saja dalam berbahasa”, ujar Duta Besar Rizal, seraya menambahkan “apalagi, dalam kaitan dengan peringatan Hari #Pendidikan Nasional, kita betul-betul disadarkan kembali akan pentingnya memperhatikan pengaruh pendidikan secara umum dan pendidikan bahasa khususnya terhadap pembentukan watak generasi mendatang”. Pada sisi lain, Dubes Rizal Sukma mengajak para peserta untuk tidak lupa terhadap jati diri yang paling hakiki sebagai warga Indonesia, yang saat ini kebetulan sedang berada di Inggris. “Toh, suatu saat akan tetap kembali ke Indonesia, atau akan tetap mengingat Indonesia”, tambah Dubes Rizal. Lebih jauh Dubes Rizal Sukma juga menyinggung peran penting bahasa yang mestinya bukan hanya sebagai alat komunikasi dan identitas diri, namun dalam konteks kepentingan diplomasi, justru bahasa menjadi sangat instrumental.

Seminar kedwibahasan di KBRI London ini menghadirkan empat panelis, masing-masing dibagi ke dalam dua tim. Tim panel pertama dari Inggris terdiri atas Nick Andon dari King’s College London dan Geoff Roberts dari University of Cambridge. Sedangkan tim panel kedua menghadirkan Dadang Sudana dan Iwa Lukmana dari Indonesia. Nick Andon dan Geoff Roberts dalam paparannya mengungkap model dan praktek pendidikan kedwibahasaan yang terjadi di lingkungan keluarga dan sekolah-sekolah di Inggris. Mereka menyatakan bahwa praktek kedwibahasaan di dalam keluarga Inggris seringkali tergerus dengan kepentingan komunikasi anak-anak di lingkungan yang lebih luas. Dalam keluarga yang melakukan kawin silang atau ayah-ibu dari etnis yang sama pun, mereka lebih terdorong untuk mengutamakan bahasa Inggris sebagai bahasa pergaulan sehari-hari, baik di rumah apalagi di luar rumah. Namun, banyak keluarga seperti ini masih tetap mempertahankan bahasa ibu atau bahasa nasional mereka dengan alasan ikatan emosional dan psikologis dengan tanah leluhur atau keluarga. Dari survey yang mereka lakukan, ternyata para keluarga ini masih memiliki harapan kuat untuk bisa menurunkan kemampuan berbahasa ibu atau bahasa nasional kepada generasi berikutnya. “Baik orang tua maupun anak-anak, pada akhirnya akan merasa menyesal kalau mereka tidak mampu berbahasa Ibu atau bahasa nasional orang tuanya,” ujat Nick Andon yang juga dosen senior pendidikan bahasa Inggris di King’s College ini.

Sementara itu, sambil menyinggung praktek pendidikan bahasa Inggris di sekolah-sekolah Indonesia, Dadang Sudana dan Iwa Lukmana menyebutkan makna di balik praktek penggunaan bahasa Inggris dalam program rintisan sekolah berstandar internasional (RSBI). Dihapuskannya RSBI bukanlah karena bahasa Inggris tidak penting atau gagalnya model praktek pendidikan kedwibahasaan tersebut. Namun, lebih karena pertimbangan akses ke sekolah dengan label RSBI tersebut yang tidak dapat dikatakan terbuka dan merata untuk seluruh warga negara Indonesia. Padahal, akses yang sama kepada pendidikan yang berkualitas haruslah menjadi bagian hak yang sama bagi semua warga.

Terkait dengan pendidikan bahasa Inggris di sekolah, survey yang dilakukan Dadang dan Iwa kepada para orang tua dan siswa menunjukkan bahwa baik orang tua maupun siswa melihat pengajaran bahasa Inggris di kelas-kelas awal persekolahan memberikan keuntungan baik untuk pengembangan kognitif (pengetahuan), afektif (sikap), maupun konatif (perilaku) para siswa. Artinya, “pendidikan kedwibahasaan di tahap awal tidak diyakini mengganggu atau menghambat perkembangan intelektual pembelajar, bahkan sebaliknya. Pembelajar akan terangsang untuk semakin kreatif dan berkembang optimal”, ujar Dadang. Khusus terkait dengan kekhawatiran pengaruh belajar bahasa asing, khususnya bahasa Inggris sejak dini, yang ditengarai dapat menggerus nasionalisme siswa, survey mereka menunjukkan bahwa hal itu tidak terlalu beralasan. “Motif belajar bahasa Inggris hanya sampai kepada tahap instrumental, bukan motif integratif. Artinya, belajar bahasa Inggris hanya diarahkan untuk mencapai tujuan belajar, mencari pekerjaan, atau tujuan-tujuan lainnya, bukan untuk mengidentifikasi diri sebagai orang atau meniru budaya Inggris”, tambah Iwa yang pernah menjadi bagian tim pengembangan bahasa Inggris di sekolah-sekolah tingkat nasional.

Sementara itu, Atdikbud London, Prof E. Aminudin Aziz, dalam kesempatan yang sama menyatakan bahwa Seminar ini dilaksanakan selain untuk memperingati Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2017, juga untuk menyambut permulaan diajarkannya bahasa Indonesia di sekolah-sekolah Inggris. Dalam pandangan Aminudin yang juga guru besar Linguistik di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, kedwibahasaan merupakan salah satu ciri masyarakat Indonesia pada umumnya. Sejak kecil orang Indonesia dipajankan kepada situasi dwibahasa. Oleh karena itu, gejala dwibahasa merupakan gejala yang sangat umum di kalangan masyarakat Indonesia. Hanya, menurut Aminudin, “sering kali kita lupa untuk memperlakukan masing-masing bahasa itu dan menempatkannya sesuai dengan fungsi dan konteks penggunaannya. Dengan demikian, sering sekali kita rancu dalam berbahasa”.

Seminar yang untuk pertama kalinya diselenggarakan ini memperoleh tanggapan luas khususnya dari masyarakat Indonesia yang sudah lama menetap di Inggris. Mereka sering dihadapkan kepada pilihan sulit untuk mengajarkan bahasa Ibu atau bahasa Indonesia kepada keturunannya. “Sering sekali saya merasa bingung kalau harus berbicara dengan anak-anak saya dalam bahasa Indonesia. Sepertinya kosakata bahasa Indonesia belum cukup handal untuk mengungkapkan sejumlah konsep”, ujar Lenah Susianty yang sudah puluhan tahun menetap di London dan lebih banyak menggunakan bahasa Inggris kepada anak-anak dan suaminya. Namun, Felicia, seorang warga Indonesia yang juga aktivis pengajaran bahasa Indonesia di sekolah dan juga penulis buku cerita anak dalam bahasa Indonesia dan Inggris, menyatakan bahwa “ketetapan kita untuk berbahasa Indonesia sesungguhnya lebih banyak ditentukan oleh kesadaran dan kebanggaan kita terhadap bahasa Indonesiaitu sendiri. Pilihan ada pada kita”.

Sebagaimana pernah dilaporkan, mulai kuartal musim panas 2017 ini ada dua sekolah di London yang secara resmi mengajarkan bahasa dan budaya Indonesia kepada para muridnya. Kedua sekolah itu adalah St. Matthew’s CE Primary School di wilayah #Westminster dan Whitefield School di wilayah #Barnet. Keberhasilan melakukan penjajagan untuk pengajaran bahasa Indonesia di kedua sekolah ini tidak terlepas dari usaha keras yang dilakukan oleh Atdikbud KBRI London melobi sekolah-sekolah. Menurut Dubes Rizal Sukma, dalam sebuah kesempatan menyatakan “tidak mudah menawarkan sebuah pelajaran masuk ke dalam kurikulum sekolah, apalagi untuk bahasa Indonesia yang bukan merupakan bahasa penduduk mayoritas di Inggris. Bersedianya sekolah mengajarkan bahasa dan budaya Indonesia merupakan wujud keberhasilan luar biasa dalam diplomasi bangsa Indonesia di sini, dari sisi budaya”.

Sumber : Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI London